Muhasabah dengan Isra' Mi'raj Selasa, 28 Juli 2009 21:54:47 PM Oleh: M. Zaini S*
Peringatan Isra'-Mi'raj sudah mentradisi di pesantren kita tercinta ini. Tujuan diadakannya peringatan Isra'-Mi'raj tidak lain hanyalah untuk mengenang dan meneladani serta menjalankan sunnah & ajaran Nabi Agung Muhammad saw. Itulah sekelumit tradisi kaum bersarung dalam mengagungkan dan memuliakan baginda Rasulullah saw.
Kita sebagai muslim wajib bersyukur dan turut serta memeriahkan bahkan senantiasa mengambil pelajaran dari peristiwa Isra'-Mi'raj Nabi Muhammad saw ini yang hanya terjadi satu kali dalam Islam dan insya Allah tidak akan terjadi lagi sampai hari kiamat tiba. Memang istilah Isra'-Mi'raj sudah tidak asing lagi kita dengar kalau boleh didefinisikan Isra'-Mi'raj adalah perjalanan Nabi Muhammad saw pada waktu malam dari makkah ke Bait al-Maqdis dengan mengendarai Burâk, naik ke Sidrat al-Muntaha-bahkan melebihinya-lalu kembali lagi ke makkah dalam waktu yang sangat singkat.
Allah berfirman: Maha suci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya. Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.sesungguhnya Dia adalah Maha Medengar lagi Maha Melihat (QS. Al-Isra':1)
Konon katanya di dalam kitab Durrahtu an-Nashîhîn dijelaskan terjadinya Isra'-Mi'raj adalah dilatar belakangi dengan perdebatan antara langit dan bumi yang pada akhirnya langit kalah berdebat dengan bumi gara-gara di bumi ada Nabi Muhammad saw. Lalu kemudian langit memohon kapada Allah untuk memanggil Nabi Muhammad ke atas langit. Maka Allah dengan Qudrah dan Iradah-Nya memerintahkan malikat Jibril pergi kesurga untuk mencari Burâk sebagai kendaraan Nabi Muhammad menghadap Allah, singkat cerita maka malam itu juga Nabi Muhammad di Isra'-Mi'rajkan oleh Allah.
Dan pada malam itu juga Allah sendiri yang memberikan kewajiban shalat lima waktu kepada Rusulullah dan umatnya sebagai oleh-oleh menghadapNya. Inilah bedanya shalat dan ibadah-ibadah lainnya yang Allah perintahkan melalui malaikat Jibril. Hal itu menunjukkan betapa seriusnya Allah dalam hal shalat ini seakan-akan Dia butuh disembah dan pada shalat kita padahal tidak demikian bahkan kitalah yang butuh menyembahNya. Allah berfirman: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami minta pertolongan (QS. Al-Fatihah:5)
Untuk itu wajiblah kita introspeksi diri kita setaip waktu-lebih-lebih pada awal mulanya shalat diwajibkan yakni pada malam isra'-mi'raj-apakah kita sudah serius/khusyu' melaksanakan shalat? Sudah benarkah shalat yang kita lakukan setiap hari? seberapa besar pengaruh shalat terhadap akhlak dan pribadi kita? sopankah kita menghadap Allah seperti Nabi Muhammad mengadapNya? Sudah bisakah kita menjaga jama'ah tanpa adanya paksaan? Tanyakan pada hati nurani kita masing-masing karena hanya kitalah yang dapat menjawabnya dan memperbaikinya jika masih belum baik, bukan orang lain!
Rasulullah saw bersabda: paling pertamanya perbuatan manusia yang ditanyakan oleh Allah kelak dihari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik maka semua amalnya baik tapi jika shalatnya jelek maka semua amalnya jelek juga dihadapan Allah (HR. At-Tabrani).
Mengapa demikian? Karena shalat adalah tiang agama dan ruhnya iman. Sementara makna shalat yang sebenarnya adalah bukan hanya bacaan doa-doa, gerakan-gerakan dan menggugurkan kewajiban semata akan tetapi hakikat shalat seperti yang dikatakan oleh Imam al-Gazali dalam Ihya'nya adalah Mi'rajur ar-Rûh ila al-Mustawal A'lâ (naiknya ruh menuju Dzat yang Maha Tinggi). Karena paling dekatnya seorang hamba kepada Allah adalah pada saat dia sujud. Celakalah orang-orang yang shalat, tetapi lalai akan (makna) shalat mereka, yakni yang riya' dan enggan (menolong dengan) barang berguna (QS. Al-Mâ'un: 4-7).
Bagi awam seperti kita tidak mudah untuk mencapai hakikat shalat yang sebenarnya. Namun di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah menghendaki. Maka dari itu, untuk memulainya kita bisa melakukan latihan-latihan seperti berikut: Pertama, makanan dan segala apa yang masuk kedalam perut kita adalah harus halal, bukan harta hasil korupsi, mencuri dsb. selain pakaian, tempat dan badan kita juga harus suci. Kedua, mengurangi perbuatan maksiat yang dapat menghapus pahala amal kebaikan kita. Ketiga, kita dalam melaksanakan shalat harus benar-benar ikhlas karena Allah. Karena Allah tidak butuh shalat kita melainkan kita yang butuh kepada-Nya. Kalau tiga hal itu sudah dipenuhi maka, yang keempat, akan tumbuh rasa kekokohan iman kita sehingga kita akan masuk kedalam golongan orang-orang yang dipuji oleh al-Quran, Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya (QS. Al-Mu'minun:1-2) dan insyaallah kita akan menemukan hakikat dari shalat kita.
Keempat hal di atas adalah syarat wajib bagi kita dalam beribadah kepada Allah. So mudah-mudahan kita termasuk golongan orang-orang yang dipuji oleh Allah dan Rasulnya.......amien.
Akhiran, ada baiknya kita renungkan kalimat-kalimat yang disering diucapkan oleh Sayyidina Ali ibn Abi Thalib: "Saya sungguh tercengang. Tidak pernah saya melihat sesuatu yang serius lagi pasti, yakni maut. Saya juga tidak melihat sesuatu yang akan ditinggalkan lagi kecil, tetapi diperebutkan seperti yang besar dan kekal, yakni dunia."
* penulis adalah santri Ma'had Aly Marhalah Wushta