Saat malam mulai menyepi, ada sepasang sejoli yang tengah asyik ma'syuk bercinta. Si pria dengan penuh percaya diri dan rayu bilang, "saying, saklu memang tidak sehebat Harun yang ganteng dan kaya. Aku juga tak sehebat dia yang telah berhasil menjadi direktur sebuah perusahaan. Aku hanyalah laki-laki tak punya yang hanya punya cinta yang mendalam untukmu," rayunya berharap sang pacar menerima apa adanya. Dengan tak kalah mesranya si wanita menjawab, "ah, nggak apa-apa kok mas. Bagiku apa yang anda miliki sudah lebih dari cukup. Yang penting tolong antarkan aku sekarang ke rumah si Harun itu."
Ustadz Harun, alumni pesantren yang sudah delapan tahun menikah sudah dikaruniai enam orang anak yang ganteng-ganteng karena seluruhnya laki-laki. Anak pertama diberi nama Rahman. Anak kedua Rahim, anak ketiga, Malik, anak keempat Sirat, anak kelima, Mustakim, dan yang keenam, Amin.
Suatu ketika Hamid, sahabatnya ketika masih nyantri, bertandang ke rumahnya. Terjadilah permbicaraan ngalor-ngidul khas santri. Tiba-tiba Hamid bertanya, "Run, berapa anakmu, sekarang?". "Alhamdulillah, sudah enam, Mid. Tiap tahun isteriku melahirkan. Itung-itung mandi juga senjataku, ya," jawabnya bangga sembari menyebutkan nama anak-anaknya satu persatu.
"Lantas, bagaimana caranya anda memanggil mereka, padahal kan usia dari masing-masing kan Cuma satu tahun," desak Hamid.
"Gampang saja, Mid. Pas kalau mau makan aku tinggal berteriak: AL FATIHAH!" jawabnya cengengesan.
Minggu, 01 Januari 2006 22:20:14 PM
Dibenci Allah dan Setan
Sebelum memulai pelajaran, seperti biasa Ustadz Mahmud memberikan pretes kepada para siswa di kelas V Ibtidaiyah:
Ustadz:
Anak-anak, coba siapa yang tahu; perbuatan apa yang disenangi Allah tapi dibenci oleh setan?
Pada keremangan malam, setelah shalat Isya', Hamid dan Harun terlibat perbincangan serius di pojok musalla. Sembari telentang keduanya menatap langit-langit musalla yang mulai menua. Pandangan mereka kosong seakan demikian berat terbebani oleh pikirannya tentang negara ini. Hamid mulai memecah suasana:
Hamid:
Run, aku heran, mengapa ya di negara kita ini nyaris segalanya serba runyam. Korupsi, pencurian, perjudian, tindak kriminal, pornografi dan segala macam kemaksiatan seakan tanpa beban terjadi begitu saja. Padahal dibanding negara lain Indonesia paling banyak warga muslimnya, paling banyak ulamanya, paling banyak pesantrennya, setiap hari pengajian diselenggarakan hampir tanpa henti. Tapi kenapa kok belum mampu mengatasi itu semua, ya?
Harun:
Benar yang anda bilang, Mid. Tapi ada satu hal yang anda lupa.
Hamid:
Apa..?
Harun:
Bahwa di negara kita juga paling banyak setannya, belum lagi manusia-manusianya yang berperilaku seperti setan. Setan yang ada di Indonesia ini, rata-rata para ulamanya setan.